• header 2.jpg
  • header 3 .jpg
  • header 4.jpg
  • header5.jpg
  • header 7.jpg
  • header 8.jpg
  • header 9.jpg

After A Week Of Going To Japanese School

Pernah kudengar nasihat seorang teman, pergilah maka kamu akan menemukan teman-teman yang lainnya, karena diammu hanya akan menjadikanmu memilukan sama seperti air yang diam menjadi keruh.

 

 

Begitulah nasihat yang menghantuiku sejak dulu, lalu membuatku mengambil satu keputusan. Maka kuputuskan untuk pergi, sebenarnya bukan untuk meninggalkan, tetapi tuntutan, atau mungkin mimpi.

Namaku Rizma Chaerani Heidy Putri, singkatnya panggil aku Karin atau Rizuma–nama panggilanku selama di Jepang. Salah satu siswi SMAN 17 Palembang yang sedang menjalani exchange semester di Jepang melalui program ASIA KAKEHASHI PROJECT 2018. Sebelum aku terpilih untuk diberangkatkan ke Jepang, memang banyak hal yang harus kupertimbangkan termasuk keluarga, lingkungan dan sekolah. Tetapi, Alhamdulillah, dengan segala pertimbangan yang sudah matang akhirnya pada tanggal 21 Agustus 2018 aku terbang menuju salah satu negara maju di dunia. Jepang, atau lebih tepatnya di kota Nomi, Perfektur Ishikawa.

Mari, kuceritakan sedikit tentang kehidupanku yang baru di Jepang. Aku tinggal bersama keluarga angkatku di Jepang. Host Dad-ku atau biasa dipanggil Otoosan –sapaan ayah di Jepang—dahulunya merupakan seorang karyawan dibidang perpajakan. Beliau bekerja sebagai petani beras dan teh. Ia mengolah lahannya sendiri. Pekerjaan yang dilakukannya menuntut beliau untuk pergi pagi dan pulang saat makan siang kemudian kembali ke sawah dan pulang sore hari.

Host Mom-ku adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai guru les piano di rumah. Sapaan untuknya adalah Okaasan—sapaan ibu di Jepang—ia mengajar piano dari hari senin hingga jumat setiap sore hingga malam. Selain kedua orang tua angkatku, disini aku mempunya seorang Host Sister dan Host Brother yang satu sekolah denganku.

Setiap hari aku bangun pukul 4 pagi untuk salat Subuh kemudian tidur lagi. Pada pukul 6 pagi, aku kembali bangun untuk bersiap-siap dan sarapan. Aku bersama dengan Host Sister-ku selalu berangkat pukul 7.15 pagi, tidak kurang dan tidak lebih. Orang Jepang memang terkenal dengan hidup yang teratur, rapih dan taat akan waktu. Kemudian, kami harus berjalan dari rumah ke tempat pemberhentian bis selama tujuh menit karena bis akan tiba pukul 7.26. Perjalanan dengan bis memakan waktu sekitar 20 menit, kemudian aku harus berjalan kaki lagi selama lima menit untuk benar-benar mencapai sekolah. Berbeda dengan Host Sister-ku, Host-Brother-ku pergi ke sekolah dengan bersepeda sekitar 40 menit setiap hari—kecuali saat hujan.

Ngomong-ngomong soal sekolah, aku bersekolah di Ishikawa Kenritsu Komatsu High School. Sekolah public yang merupakan salah satu sekolah terbaik di Perfektur Ishikawa. Sekolah satu ini mempunyai beberapa gedung serta lapangan yang sangat luas. Contohnya saja, lapangan bola disini lebih luas dan lebih besar daripada komplek asrama SMAN 17 dan terdapat ruangan olahraga indoor—tempat untuk bermain basket dan dijadikan aula untuk acara tertentu—yang lebih besar dari Aula Taufik Ismail. Ishikawa Kenritsu Komatsu High School ini juga mempunyai beberapa bukatsu atau ekstrakurikuler yang dapat diikuti. Diantaranya ada brass band, flower arrangement, tea ceremony, dan masih banyak ekstrakurikuler olahraga lainnya seperti basket, bulu tangkis, bahkan rowing. Aku sendiri ikut serta dalam klub tea ceremony.

Sekolah dimulai pukul 8.15 dan berakhir sekitar pukul 4 sore. Pada pagi hari, guru homeroom biasanya datang ke kelas untuk menyampaikan pengumuman kegiatan yang bersangkutan dengan hari tersebut atau membagi hasil ujian yang sudah siswa jalani sebelumnya. Sama seperti jam ke-0 di SMAN 17. Jam pelajaran periode pertama dimulai pukul 8.30. Satu periode lamanya 45 menit dan terdapat 6-7 periode dalam satu hari. Uniknya, ada waktu tirahat 10 menit di akhir setiap periode sebelum memulai periode selanjutnya. Jam makan siang dimulai pukul 12 dengan durasi 45-50 menit. Biasanya siswa akan makan obento yang sudah dibawa dari rumah, termasuk aku!

Di sini, aku ditempatkan di kelas 2 atau ni nen sei, setara dengan kelas 11. Sama seperti di Indonesia, SMA disini juga 3 tahun. Satu kelas di sini berisi 40 orang. Kelasku sendiri terdiri dari 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Padat sekali, ya! Tapi ada yang sesuatu bikin unik, nih. Sistem KBM-nya yang sampai sekarang aku juga belum terlalu paham, tapi akan aku jelaskan sebisa mungkin dan akan aku update di artikel selanjutnya kalau sudah paham, ya!

Jadi, ada beberapa kelas termasuk kelasku yang pada beberapa pelajaran tertentu siswa akan dipisah menjadi dua sampai tiga kelompok belajar. Satu kelompok akan pindah ke kelas lain dan sisanya akan tetap berada di kelas homeroom. Siswa yang pindah kelas akan membahas pelajaran lain sesuai dengan mata pelajaran yang mereka pilih sebelum semester dimulai. Misalkan, pada waktu yang sama kelompok belajar A belajar bahasa Jepang klasik, maka kelompok belajar B belajar matematika. Jadi ada moving class juga, tapi kelompok belajarku hanya moving saat pelajaran fisika, kimia, dan matematika II aja. Hanya pada pelajaran bahasa Inggris kelasku penuh dan tidak dipisah.

Di akhir Agustus lalu sekolahku mengadakan festival budaya dan olahraga atau bahasa lainnya bunkasai dan taiikusai. Setelah itu, ada ujian untuk siswa selama tiga hari. Maka dari itu, terhitung aku baru belajar selama tujuh hari. Pelajaran yang aku pelajari mencakup geografi, sejarah dunia, matematika B dan II, fisika, kimia, bahasa ingris conversation dan grammar, bahasa jepang klasik dan modern, dan olahraga.

Pasti kalian semua penasaran, “Karin ngerti ngga pelajaran disana?” Jawabannya, Alhamdulillah sejauh ini belum banyak mengerti terutama pada pelajaran geografi, sejarah dunia, dan bahasa Jepang klasik. Pelajaran ini adalah waktu-waktu krisis dimana mata terasa berat. Classmates-ku ada beberapa yang ketiduran bahkan tepat di depan meja guru. Tapi anehnya, tidur di kelas di sini tidak dimarah, loh! Eits, tapi bukan berarti kita jadi boleh tidur terus di kelas. Guru-guru di sini mempunyai prinsip bahwa belajar itu tanggung jawab masing-masing siswa. Jadi jika siswa mau tidur di kelas, silahkan, tapi jika nilai siswa kecil, itu bukan tanggung jawab guru. Alhamdulillah, pelajaran matematika, fisika, dan kimia lebih mudah dipelajari.

Nah, ini akan jadi bagian yang seru untuk dibahas! Pasti pada penasaran kan bedanya siswa Indonesia dan siswa di Jepang apa aja? Tentunya, ada banyak hal yang membedakan siswa Indonesia dan siswa Jepang. Dimulai dari bahas buku cetak dulu, deh.

Berbeda dengan siswa Indonesia, siswa di Jepang punya banyak banget buku cetak. Satu pelajaran bisa ada dua sampai dengan empat buku cetak. Isi bukunya juga berbeda dari satu dan yang lainnya. Ada buku yang isinya materi, ada buku yang isinya hanya latihan soal, ada juga buku yang isinya hanya untuk PR. Memang bukunya emang tidak setebal buku-buku cetak di Indonesia, tapi kalau harus bawa banyak setiap hari kan juga repot. Di kelasku memang tersedia loker, tetapi biasanya loker itu penuh dan setiap hari pasti selalu ada tugas dan hampir setiap hari ada ujian harian. Sehingga, buku-buku cetak tersebut terpaksa harus dibawa pulang. Jadi, tidak heran jika tas-tas siswa di Jepang ukurannya relatif besar. Selain itu, Mereka juga selalu bawa tas jinjing ekstra yang isinya obento, baju olahraga, atau buku-buku pelajaran yang tidak bisa lagi masuk tas punggung.

Untuk sistem pembelajaran, guru-guru di sini juga selalu memberi lembaran kertas atau booklet yang berisi catatan pelajaran yang udah mereka ketik rapi. Akhirnya, buku catatan cuma dipakai untuk menempel lembaran-lembaran kertas yang udah dikasih guru. Duh, kalau siswa Indonesia sepertinya belum sehari juga sudah hilang, ya, kertasnya?

Cara mengajar guru di Jepang juga ternyata berbeda dengan guru di Indonesia. Sejak jam pelajaran dimulai, guru akan menjelaskan topik pembelajaran pada hari itu dengan menggunakan presentasi sampai jam pelajaran berakhir. Pada pelajaran hitung-menghitung seperti matematika, mereka sudah memberikan soal-soal di lembaran kertas atau booklet yang dapat kita kerjakan selama pelajaran berlangsung. Pada beberapa kesempatan, guru akan bertanya pada siswa, tapi tidak sering. Interaksi antara guru dan siswa bisa dibilang sangat minim.

This fact shocked me the most. Kenyataannya di lapangan, siswa Jepang sangat giat belajar meskipun kata mereka, mereka tidak suka belajar. For real, di bus menuju ke sekolah mereka baca buku. Di sekolah bahkan saat jam kosong dan jam istirahat, mereka juga baca buku atau mengerjakan soal, dan yang lebih mengejutkannya lagi, setelah sekolah berakhir, masih ada beberapa siswa terutama yang duduk di bangku kelas 3, yang masih berada di sekolah untuk ikut kelas tambahan atau sekedar belajar mandiri. Sekolah memberi waktu sampai jam 6.45 malam untuk siswa-siswa ini belajar mandiri. Disediakan ruangan dengan kursi dan meja yang cukup banyak untuk memfasilitasi siswa-siswa rajin ini. Bahkan, ada siswa yang datang Hari Sabtu dan Minggu atau hari libur nasional untuk belajar mandiri di sekolah, hebat kan? Selain itu pada hari kerja, tenaga pengajar masih stand by di ruang guru sampai jam 7 malam. Jadi, jika ada pertanyaan yang menyangkut mata pelajaran bisa langsung mencari guru yang bersangkutan di ruang guru. Oh iya, Host Sister dan Host Brother-ku juga sering pulang malam karena memilih untuk belajar mandiri di sekolah dan setelah sampai rumah juga mereka masih harus belajar lagi karena tuntutan orang tua. Salut.

Sekian dulu ya sharing-nya! Jika ada yang ingin ditanyakan atau kepo sama kehidupan sehari-hariku selama di Jepang, jangan ragu untuk mampir ke instagram-ku @rizmachaeranii dan bisa cek highlights-ku yang bergambar bendera Jepang. See you on the next story-post!