• header 2.jpg
  • header 3 .jpg
  • header 4.jpg
  • header5.jpg
  • header 7.jpg
  • header 8.jpg
  • header 9.jpg

“The Unity in Diversity”

“Tanah airku Indonesia....Negeri elok amat kucinta....Tanah tumpah darahku yang mulia...Yang kupuja sepanjang masa”

Lantunan Lagu Rayuan Kelapa yang kami (146 Pemuda-Pemudi Indonesia dari Sabang sampai Merauke) nyanyikan seraya bergandeng tangan di malam Farewell Party delegasi siswa pertukaran pelajar Bina Antarbudaya YP 17/18, masih terngiang jelas dipikiran saya.

Disaksikan oleh beberapa Menteri Republik Indonesia, Duta Besar beberapa negara dan tokoh penting lainnya, menyaksikan senyum bangga di wajah orang tua, terbayar sudah hasil jerih payah kami dan kakak-kakak Bina Antarbudaya mempersiapkan acara itu. Gelora yang menyelimuti atmosfer Teater Pewayangan Kautaman malam itu, selalu berhasil membuat saya bergidik. Tepat di momen itu, saya mengecap betul makna lirik lagu tersebut dan mutlak menjadi penyemangat program pertukaran pelajar yang kala itu sudah di depan mata.

 

Halo! Perkenalkan, saya Rischka. Siswa pertukaran pelajar dari SMA Plus Negeri 17 Palembang, Indonesia yang mendapat kesempatan belajar di Crow High School, Oregon, Amerika Serikat. Mendapat kesempatan menjadi salah satu Pemuda-Pemudi Pertukaran Pelajar Indonesia tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun hidup sebagai seorang siswa pertukaran pelajar tidak semanis madu, pun tidak sepahit cokelat hitam. Menjadi seorang exchange student berarti harus meninggalkan zona nyaman dan berangkat menuju beribu tantangan. Menahan rindu dan menyambut hari penuh pengalaman baru.

Terpisah 14 ribu kilometer dari keluarga tersayang selama 10 bulan, bukanlah hal yang mudah. Tinggal bersama keluarga Livelybrooks—yang berpengetahun luas dan sudah berpengalaman hosting 15 exchange students—adalah suatu hal yang selalu saya syukuri.  Bukan hanya bertukar budaya dengan Amerika, saya juga berkesempatan bertukar budaya dengan Ghana—Melalui double-placement dengan exchange student dari Ghana, Rauda. Dad, jenius dalam physics and math, gemar obrolan politik dan bercanda. “Giving you hard time, that’s the reason why I’m here!” adalah kalimat yang seringkali ia lontarkan setelah bersenda gurau. Mom merupakan sosok ibu yang hangat dan kuat. Beliau memiliki cara tersendiri dalam mengatur segala sesuatu dan menyuarakan pendapatnya. Zoë, Ah! She definitely is my role model. Melalui keluarga ini, saya masuk ke dalam lingkungan yang positif dan membangun.

Banyak orang yang memiliki bayangan tentang Amerika Serikat sebagai negeri adidaya dengan peradaban yang serba modern—dan memang betul adanya. Tentu tidak pantas untuk menggeneralisasikan suatu negara perserikatan yang terdiri dari 50 negara bagian dan menciptakan suatu stereotype mutlak. Dibalik kesibukan New York City, gemerlap malam Los Angeles, keeksotisan Hawaii, Amerika Serikat juga memiliki sisi lain. Dan saya cukup beruntung untuk merasakan salah satunya.

Saya tinggal di Crow, Oregon. “Out in the country side” begitu orang menyebutnya—Yang dimaksud adalah suatu area di luar perkotaan. 15 miles dari kota terbesar kedua di Oregon, Eugene. Pepohonan yang rimbun dikala summer, berguguran dikala fall, tak berdaun dikala winter, dan kembali bersemi dikala spring. Oregon adalah state yang terkenal akan pohon Douglas Fir, penghasil Hazelnut terbesar di U.S., dan hujan sepanjang tahun kecuali bulan Juli, Agustus, dan September. Oregon (terutama Eugene dan Portland) juga terkenal akan budaya Hippies dan ramah dengan Homeless people. Terkhusus di bagian Crow, kami tidak mendapat salju. Tapi bukan berarti suhu tidak menggigit, minyak telon yang saya bawa dari Indonesia pun beku dibuatnya! Crow juga menjadi salah satu jalur Oregon Wagon Trail, yaitu jalur migrasi dari East Coast menuju West Coast di pertengahan abad ke-19.

Individualistic Americans Stereotype yang selama ini kerap melekat, lantas kandas di hari pertama saya sampai Oregon. Senyum menghias hampir seluruh wajah yang saya temui. Tutur kata yang terlontar, sekedar membukakan pintu untuk orang asing, percakapan singkat selama transaksi jual beli di suatu supermarket atau café, dan masih banyak lagi tindakan persuasif yang menyimbolkan keramahan penduduk setempat. Usut menyusut, ternyata memang penduduk West Coast cenderung lebih ramah daripada penduduk East Coast yang notabene bermukim di perkotaan.

Salah satu pengalaman berharga yang saya dapat adalah menyajikan presentasi mengenai Indonesian Perspective About The Beauty of Islam and Hijab. Uniknya, saya menyajikan presentasi ini di suatu gereja di Eugene yang dihadiri kurang lebih 60 jemaat gereja. Bukan main rasa gugup yang saya rasakan kala itu. Tanggung jawab untuk membawakan topik sesuai ajaran Islam dan membawa nafas kedamaian berat bersangga di bahu saya. Saya tekankan diawal presentasi untuk tidak menjadikan ini landasan pandangan, tetapi menjadi bukti tambahan akan keindahan Islam. Respon yang saya dapatkan diluar dugaan, mereka bukan saja menghargai perspektif saya namun juga menghujani dengan pertanyaan dan pujian. Oh, senangnya saya! Setidaknya saya sudah menyodorkan beberapa bukti akan indahnya Islam. Lalu saya sadari, perspektif sayalah yang berkembang.

Baru setengah jalan memang perjalanan saya menjadi seorang siswa pertukaran pelajar. Namun selama kurang lebih enam bulan disini, betul-betul membuka perspektif dan meluaskan pola pikir saya. Konstruksi sudut pandang yang selama ini saya miliki, direnovasi dengan berbagai tantangan dan fakta yang saya temui. Terkadang saya berpikir selalu ada skenario yang ditetapkan untuk membuat membuka mata saya. Keberagaman budaya dan perbedaan adalah kunci dari persatuan. Tatkala saya terbuai dengan nikmatnya hidup di Negeri Paman Sam, ada saja yang mengingatkan. Kembali berkaca pada akar Negara Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

“The Unity in Diversity”