Halo semuanya! Perkenalkan, aku Farah Khanza Aurelia siswi SMA Negeri 17 Palembang yang berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) ke Amerika Serikat. Program ini merupakan program beasiswa penuh dari U.S. Department of State yang memberikan kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk tinggal bersama host family, bersekolah di Amerika Serikat, serta mengenal budaya baru selama kurang lebih selama 10 bulan.
Kalau melihat perjalananku sekarang, mungkin banyak yang mengira semuanya berjalan lancar dari awal. Padahal, sebelum berhasil lolos KL-YES, aku pernah mencoba mengikuti program pertukaran pelajar lain dari Binaantarbudaya sebanyak tiga kali dan semuanya belum berhasil.
Saat awal semester 1 kelas X aku melihat postingan Instagram tentang pembukaan pendaftaran KL-YES. Saat itu aku sempat ragu untuk mendaftar. Tapi ada satu kalimat yang terlintas di kepalaku:
“Coba aja dulu. Kalau kita nggak coba, kita nggak akan pernah tahu hasilnya.”
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mendaftar. Perjalanan seleksi dimulai dari tahap seleksi berkas. Setelah mengisi dan mengumpulkan berbagai dokumen yang dibutuhkan. Aku menunggu hasil pengumuman Alhamdulillah aku dinyatakan lolos dan bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu Seleksi Chapter.
Seleksi Chapter dilaksanakan secara online melalui Zoom Meeting. Seleksi ini terdiri dari wawancara bahasa Indonesia, wawancara bahasa Inggris, dan dinamika kelompok. Bagian yang paling aku suka adalah dinamika kelompok. Walaupun dilakukan secara online, aku tetap bisa merasakan serunya bekerja sama dengan peserta lain dalam satu tim. Kami berdiskusi, menyampaikan ide, dan mencari solusi bersama.
Setelah selesai seleksi chapter, aku kembali menunggu hasil pengumuman. Alhamdulillah, aku dinyatakan lolos dan berhak melanjutkan ke Seleksi Nasional. Di tahap ini berbeda dengan seleksi chapter karena dilaksanakan secara offline di Jakarta. Aku berangkat bersama tiga peserta lainnya dari chapter Palembang. Sesampainya di Jakarta, aku bertemu dengan 115 peserta lain dari seluruh chapter yang ada di Indonesia.
Seleksi nasional berlangsung selama empat hari. Selama kegiatan itu aku belajar banyak hal baru, mulai dari kepemimpinan, kerjasama tim, komunikasi, sampai mengenal lebih banyak budaya dan sudut pandang dari teman-teman seluruh Indonesia. Jujur, di seleksi nasional ini adalah salah satu momen yang tidak bisa aku lupakan, senang rasanya bisa mendengar cerita yang menginspirasi dari perjalanan mereka bisa sampai berada di titik ini. Aku juga merasa bersyukur karena bisa bertemu teman-teman dari berbagai daerah yang mempunyai mimpi yang sama.
Setelah seleksi nasional selesai, aku kembali pulang dan menunggu hasil selama beberapa bulan. Beberapa bulan kemudian, kabar baik itu akhirnya datang. Aku dinyatakan lolos sebagai semifinalis bersama 65 peserta lainnya. Setelah itu kami harus melengkapi berbagai dokumen tambahan dan mengikuti ELTis (English Language Test for International Students). Kemudian dilanjutkan dengan seleksi internasional.
Tanggal 13 Maret 2025 menjadi salah satu tanggal yang tidak akan pernah aku lupakan. Hari itu aku menerima email dari Binaantarbudaya yang menyatakan bahwa aku lolos menjadi finalis program KL-YES ke Amerika Serikat.
Setelah dinyatakan lolos, perjalanan belum selesai. Kami harus melengkapi berbagai dokumen, terutama dokumen kesehatan, serta memulai proses pencarian host family. Pada bulan Juni kami mengikuti Visa camp untuk proses pembuatan visa. Kemudian pada akhir Juli kami mengikuti orientasi nasional yang diselenggarakan oleh Binaantarbudaya selama hampir satu minggu.
Orientasi nasional menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan buat aku. Di sana kami bergabung bersama peserta dari program AFS dan AKP+. Perasaan kami bercampur antara senang, sedih, gugup, dan bersemangat karena sebentar lagi akan berangkat meninggalkan Indonesia selama hampir satu tahun. Kami belajar banyak hal mengenai adaptasi budaya, komunikasi lintas budaya, cara menghadapi culture shock, hingga bagaimana menjadi representasi Indonesia yang baik di negara tujuan. Pada akhir kegiatan, kami mengadakan Farewell Party yang penuh haru dan kebahagiaan.
Akhirnya, pada tanggal 3 September 2025, aku menerima placement report yang berisi informasi host family dan penempatan aku. Aku ditempatkan di Ossian, Indiana, Amerika Serikat. Lima hari kemudian, tepatnya pada tanggal 8 September 2025, aku bersama teman-teman dari Indonesia menuju Doha, Qatar, sebelum melanjutkan perjalanan ke New York. Sesampainya di New York, kami mengikuti orientasi kedatangan yang diberikan oleh panitia program. Di sana kami mendapatkan berbagai bekal yang membantu proses adaptasi selama menjalani program.
Pada tanggal 11 September 2025, kami berangkat menuju host state masing-masing. Aku tinggal bersama host family yang sangat baik dan hangat. Mereka menyambutku seperti keluarga sendiri, dan membantu diriku memahami kebiasaan di rumah dan komunitas sekitar. Dari mereka, aku belajar banyak hal tentang kehidupan keluarga di Amerika, cara berkomunikasi yang lebih terbuka, dan pentingnya saling menghargai perbedaan.
Aku bersekolah di Norwell High School, di sekolah aku bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang yang berbeda. Setiap hari terasa seperti pengalaman baru, aku mengikuti pelajaran, berdiskusi di kelas, ikut kegiatan sekolah, dan mencoba aktif dalam berbagai aktivitas. Walaupun awalnya aku sempat takut untuk berbicara dengan mereka, tetapi teman-teman dan guru-guru disana sangat mendukung diriku. Mereka membuatku merasa nyaman untuk belajar hal baru dan berkembang.
Salah satu hal paling berkesan selama journey exchange student adalah ketika aku bisa memperkenalkan budaya Indonesia kepada orang-orang di sekitarku. Aku bercerita tentang budaya, makanan, bahasa, dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Banyak dari mereka uang penasaran dan antusias mendengar ceritaku, terutama saat aku memperkenalkan “Indomie” dan “Kain Batik”.
Selama tinggal di Amerika, aku juga belajar banyak tentang kemandirian. Aku harus mengatur waktu sendiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menghadapi tantangan sendirian walaupun jauh dari keluarga. Dari proses itu, membuat diriku menjadi lebih percaya diri.
Kalau ditanya apa pelajar terbesar dari perjalanan ini, jawabannya adalah: “Jangan takut untuk mencoba.”
Karena kalau dulu aku menyerah setelah gagal tiga kali, mungkin aku tidak akan pernah sampai di titik ini. Ternyata, kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kadang, kegagalan justru menjadi jalan untuk membawa kita ke kesempatan yang lebih besar.
Program KL-YES bukan hanya memberiku kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat, tapi juga mengajarkanku arti perjuangan, kesabaran, keberanian, dan rasa syukur. Aku belajar bahwa setiap proses punya waktunya sendiri, dan hasil yang baik seringkali datang setelah kita berani terus mencoba.
Untuk teman-teman yang sedang berjuang mengejar mimpi, jangan pernah takut untuk gagal. Jangan takut untuk mencoba lagi. Karena siapa tahu, kesempatan yang selama ini kamu tunggu justru datang setelah kamu berani melangkah sekali lagi. (FKU)
