• header 2.jpg
  • header 3 .jpg
  • header 4.jpg
  • header5.jpg
  • header 7.jpg
  • header 8.jpg
  • header 9.jpg

Habil: Peraih The Most Valueable Research Improvement di Korea Selatan

Research is to see what everybody else has seen, and to think what nobody else has thought”. Allah memberikan manusia akal dengan berbagai karunia. Dengan akal kita bisa meneliti, mengamati, mempelajari segala hal di muka bumi, dengan kata lain manusia adalah khalifah di muka bumi untuk kemajuan dunia.

 

Mungkin Inilah awal kisah yang mendasar membuatku terjun ke dunia riset. Dulu aku K.M. Habil Sabilirohim hanya seseorang yang biasanya hanya melihat Alm. ibuku yang selalu khawatir melihat alm. ayahku asik di depan laptopnya sekadar menyelesaikan laporan atau buku ilmiah saat itu, akhirnya kini aku pun berjumpa dengan dunia yang sama seperti ayah. Yesterday, my life isn’t a life for research, mungkin kemarin aku hanyalah anak yang senang membaca tilawatil Al-Qur’an, bermain gitar, dan menjadi pemain catur tapi kini duniaku seketika berubah.

Pengalaman luar biasa ketika mengikuti berbagai even ilmiah di masa putih abu-abu, setiap waktu hari demi  hariku dihadapkan dengan lomba-lomba demi mengharumkan nama sekolah di kancah nasional atau internasional. Habil yang saat itu menjadi seorang ketua KIR  (KIRANA-Kelompok Ilmiah Remaja Andalan Anak 17) dengan berbekal motivasi dan NEKAT saat itu pertama kalinya bertemu dengan seorang guru terbaik dan paling ditakutin anak 17, Maam Widya Grantina. Dalam pikiranku “Ketua KIR apaan kalo gak bisa nulis, lakukan penelitian, dan sekadar buat essai, disini aku ingin maju aku pengen banggakan almamater 17”.

Itulah pikiran mendasar dan sekaligus motivasi awal aku selalu ingin maju dibandingkan yang lain. Akhirnya, revisi coretan sudah sering kali diterima bahkan hari-hariku melelahkan dengan berbagai proyek ilmiah yang dilakukan baik siang ataupun sore ketika jam kosong. Ekskul KIR adalah ekskul yang menjadi ujung tombak sekolah dengan berbagai prestasinya dan aku adalah orang yang memegang pundak atau kembalinya ekskul KIR ke titik puncaknya. Aku ingin menjadi sejarah dan terus maju dengan do’a Ibu-Bapak Guru

18-23 Oktober 2018, The Milset-Expo Science Asia (ESA) 2018 Lomba Karya tulis Ilmiah beserta pameran Expo se-Asia di Daejoen-Seoul, South Korea telah dilaksanakan. Inilah titik balik dari apa yang aku impi-impikan sejak kecil untuk membela bangsa Indonesia dan Sekolah yang aku cintai.  Undangan untuk seleksi tingkat nasional telah dikirimkan kepada seluruh pemenang Lomba Peneliti Belia (LPB) tingkat regional. Aku pada saat itu terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh Maam Wyd bahwa ada pemberitahuan untuk seleksi, apalagi saat itu aku masih mengikuti Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) di Purbalingga.

Akhirnya setelah melalui proses pembuatan Abstrak dan perbaikan naskah Penelitian, akhirnya penelitianku dikirimkan ke lembaga Peneliti Belia (CYS) untuk dilaksanakan seleksi. Alhamdulillah Habil yang saat itu dengan berbekal doa teman-teman dapat terpilih sebagai salah satu peserta Expo Sciences Asia (ESA) dengan total peserta 32 negara di Asia, dengan 49 orang dari Indonesia dan sebanyak 443 peserta dari belahan penjuru benua Asia dengan berbagai penelitian yang wah dan luar biasa. Jujur saja aku pada saat itu merasa minder dengan proyek penelitianku, dan pernah merasa pesimis dengan karyaku sendiri. “mereka udah testing pada lab aku hanya berbekal aplikasi pak Yanto, Pembimbingku di Pusat hahaha”.

Tetapi, itu hanya beberapa saat karena aku adalah pemegang pundak teman-temanku yang menunggu ceritaku disini, At that time, aku pede saja aku pernah dibimbing oleh guru terbaik dan diibaratkan ibuku kedua, aku maju saja dan tetap ingat nasehat maam wyd dan Pak Yanto. Penelitianku kutekankan pada Aspek Analisis Fakta dan tidak berpusat pada fungsi, dalam segi inovasi aku bukan terbaik tetapi dalam segi kreativitas i’m the best one. Manusia diberikan dengan berbagai potensi, ada yang mahir dalam verbal (bahasa), Logic (logika), dan Creativity (creative) dengan berbekal pengetahuan ini aku tetap bersaing dengan mereka yang memiliki bakat lebih dan aku hanya mengandalkan potensi yang ada untuk maju.

Setelah perjalanan yang panjang menghadapi berbagai pertanyaan dari pengunjung stanku dan tahap persentasi, akhirnya penelitianku dengan judul “Designing and Producing of Mini Portable Equalizer (MPE) Flexible Low-Cost Audio” Berhasil mendapatkan Special Award “The Most Valueable Research Improvement”  dari INHA University Enginering and Technology dari Korea Selatan dan mengibarkan sang saka merah putih di negeri KPOP dan alhamdulillah pada saat itu Indonesia menjadi Juara Umum ESA 2018. Sungguh membanggakan dan haru, aku hanyalah seseorang anak yatim Piatu yang menjalani kehidupanku dengan ikhlas.

Prestasi ini kupersembahkan dan kukhususkan untuk Maam Widya Grantina, The Best Teacher dan sekaligus ibu keduaku, serta KIRANA 17’ (Kelompok Ilmiah Remaja Andalan Anak 17) Ekstrakurikuler tercinta. Aku bangga menjadi seorang Young Researcher dan seorang remaja yang dibesarkan di bumi nusantara Indonesia.

Pesan dari kakak untuk adik-adik. Ayoo semangat adik-adik KIR, mungkin kita seringkali diremehkan dalam hal apapun, tapi jangan pernah putus asa kalian adalah anak-anak dengan potensi yang lebih kalian adalah anak-anak ilmiah, anak-anak dengan IQ yang tinggi, Kreativitas yang lebih, penuh ilmu, dan yang terbaik dari yang terbaik. Jangan putus asa dalam melakukan penelitian. Dan jangan pernah berpikir melakukan  penelitian hanya untuk menyelesaikan bugemm, tapi jadikan Your Research sebagai ladang pahala untuk kebaikan bangsa dan dunia. At last but not least, Semoga SMA Plus Negeri 17 Palembang tetap menjadi yang terbaik dengan prestasi gemilang baik di tingkat nasional dan Internasional. (KMHS)