• header 2.jpg
  • header 3 .jpg
  • header 4.jpg
  • header5.jpg
  • header 7.jpg
  • header 8.jpg
  • header 9.jpg

Tiara Priscillia Peraih Perak FLS2N 2017 Cabang Kriya

Perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMA Tingkat Nasional 2017 di Kupang, Nusa tenggara Timur telah berakhir. Akan tetapi FLS2N 2017 ini telah meninggalkan kesan mendalam pada diri Tiara Priscillia Dewi, siswi kelas XII-9 yang menyumbangkan medali perak sekaligus medali satu-satunya untuk kontingen Sumatera Selatan. Capaian ini tentu membanggakan bagi seluruh warga SMA Plus Negeri 17 Palembang.

 

Lomba FLS2N yang diikuti Tiara adalah di Bidang Seni Kriya, yaitu peserta harus membuat suatu inovasi karya tangan. Lomba ini Tiara ikuti dari tingkat kota 25 April 2017 saat masih kelas XI semester 2. Kemudian dilanjutkan pada tingkat provinsi pada 31 Juli 2017 yang mana seleksi tersebut dapat berlanjut hanya pada peserta yang mendapat juara 1 saja. Alhamdulillah di tingkat kota dan provinsi Tiara mendapat juara 1 sehingga berhak untuk mewakili Sumatera Selatan di tingkat nasional.

Lomba dilaksanakan selama 3 hari dimana hari pertama berupa pembuatan konsep, har kedua pembuatan karya dengan waktu 5 jam, dan hari ketiga presentasi karya di aula gedung Gubernur Kupang NTT.

Alhamdulillah usaha Tiara tidak sia-sia. Dengan latihan yang secara rutin, bahkan tak jarang hingga larut malam diusahakan demi menghasilkan karya yang maksimal dan menjadi juara kedua Nasional di pentas FLS2N cabang lomba Kriya. Dimana Tiara harus membagi waktu antara belajar dan latihan. Rasa bosan pun pernah menghantuinya karena mencari ide suatu karya dengan dikejar oleh waktu merupakan suatu hal yg sangat sulit. Ditambah lagi lomba ini merupakan lomba individu, bukan seperti lomba kriya lain yg bisa berkelompok.

Tema karya kriya yang Tiara pilih pada tingkat kota itu "lampion bunga teratai dengan Songket". Sedangkan pada tingkat provinsi "telok abang khas palembang dengan acrilic" dan di tingkat nasional "telok abang khas palembang dengan jam tangan bekas". Sesuai dengan tema FLS2N 2017 yakni mengangkat budaya lokal, modern dan berinovasi. Seperti kita ketahui bahwa lambat laun mainan telok abang itu mulai punah. Bahkan menurut survey yang dilakukan Tiara kepada beberapa teman di sekolah maupun di les, banyak yang melupakan budaya tersebut bahkan tidak sedikit pula yang tidak tahu tentang budaya ini.

Pembuatan konsep karya dan pemahaman ide jauh lebih lama dibanding penerapan/pengerjaannya. Konsep yang Tiara terapkan dalam membuat karya miniatur telok abang ini dengan landasan ramah lingkungan. Selain itu juga membuat suatu karya dengan lebih minimalis dan elegant. Dimana suatu karya semakin kecil maka semakin rumit dan semakin bernilai. Ukuran kapal telok abang yang dibuat oleh Tiara sepanjang 7.2 cm sesuai umur Republik Indonesia yag sudah 72 tahun. Karya Tiara yang unik ini bahkan menjadi inspirasi banyak orang dan ada yang membuatnya menjadi cover majalah.

Karya ini dibuat demi menumbukan rasa kecintaan terhadap budaya Dengan harapan dapat berkembang dan menembus pasar nasional maupun internasional. Tidak hanya kerumitan pada pembuatan badan kapal yg harus menyusun sel-sel jam tangan bekas tetapi disini Tiara menggunakan telok/telur puyuh sebagai pengganti telok bebek pada umumnya. Dimana telur puyuh tersebut dibuang  isinya dan diukir menggunakan bor tangan, sehingga betapa sulitnya pengerjaan tersebut karena cangkang yang mudah rapuh disaat kondisi ruangan bising.

Ketelitian, kecepatan, ketepatan, keindahan, pemahaman budaya, seni dan kepandaian berbicara harus bisa dikuasai pada lomba kriya ini. Namun dengan berbagai pengalaman seperti  mengikuti berbagai lomba/kegiatan lain selain yang sejenis seperti pernah memenangkan lomba hasta karya tingkat provinsi dan mendapat juara 3, lomba Poster kaligrafi, Raimuna Cabang, Raimuna daerah dan jenjang FLS2N tingkat kota hingga provinsi telah dilaluinya.

Tiara mengharapkan prestasinya ini dapat menjadi panutan bagi generasi selanjutnya agar bisa memberikan hasil yg lebih lagi. Tiara juga berharap jiwa seninya dapat terus berkembang hingga menjadi seorang seniman yang dapat menembus pasar internasional. Selain itu, lomba ini memberikan pengalaman pada Tiara untuk mengenal berbagai macam budaya di Indonesia sekaligus mendapat banyak teman dari seluruh tanah air.